Rupiah, Inflasi, dan BI-Rate: Siapa yang Sedang Dikendalikan?

Dari suku bunga ke insentif likuiditas, strategi BI kian ekspansif untuk menyelamatkan pertumbuhan.

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 29 Juli 2025 - 10:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan suku bunga BI di tengah dinamika global. (Dok. Setkab.go.id)

Perry Warjiyo menyampaikan arah kebijakan suku bunga BI di tengah dinamika global. (Dok. Setkab.go.id)

INDONESIA (BI) kembali mengirim sinyal pelonggaran moneter.

Setelah memangkas BI-Rate sebanyak tiga kali sejak awal tahun, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan masih ada ruang untuk penurunan lanjutan.

Namun, seperti biasa: “Timing is everything”.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Besar dan waktu penurunan akan kami ukur sesuai dengan dinamika perekonomian global dan domestik,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (28/7/2025), di Jakarta.

Suku bunga acuan kini berada di level 5,25 persen. Tiga kali pemangkasan masing-masing sebesar 25 basis poin terjadi pada Januari, Mei, dan terakhir Juli 2025.

Namun, pelonggaran bukan sekadar urusan angka. Dibalik angka itu, BI memikul beban besar: menstimulasi ekonomi tanpa menjatuhkan kredibilitas moneter.

Kebijakan Moneter: Berjalan di Ujung Pisau

BI sedang bermain di dua kutub ekstrem. Di satu sisi, ekonomi nasional perlu didorong dengan suku bunga yang lebih longgar.

Di sisi lain, stabilitas rupiah dan inflasi harus dijaga mati-matian.

“Ekspektasi inflasi 2025–2026 tetap rendah, nilai tukar rupiah stabil, dan kita perlu mendorong ekspektasi pasar agar tidak deflatif,” kata Perry.

Kondisi makro saat ini memang memberi ruang. Rupiah bergerak relatif stabil, sementara tekanan eksternal belum mengancam seperti halnya 2022.

Namun, ancaman tak pernah jauh. The Fed di Amerika Serikat belum memberi kepastian arah suku bunga.

Ketidakpastian global—dari perang dagang, geopolitik Timur Tengah, hingga perlambatan Tiongkok—masih jadi bayang-bayang.

Stabilitas Rupiah: BI Siaga di Tiga Medan Perang

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menggelar operasi simultan di tiga pasar.

Pertama, intervensi di pasar non-delivery forward (NDF) luar negeri.

Kedua, penguatan di pasar spot dalam negeri.

Ketiga, optimalisasi domestic non-deliverable forward (DNDF).

“Kami terus intervensi NDF sejak 7 April di pasar Hong Kong, Eropa, dan New York agar tetap sesuai fundamental,” jelas Perry.

Ini sinyal bahwa BI tidak akan membiarkan rupiah berfluktuasi liar—terutama menjelang periode belanja pemerintah di kuartal IV.

Kredit Lesu, KLM Jadi Senjata Baru

Tak hanya suku bunga, BI juga menggelontorkan insentif likuiditas untuk mendorong pembiayaan.

Lewat skema Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM), bank diberi ruang lebih untuk menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

Penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dan peningkatan Rasio Pendanaan Luar Negeri (RPLN) menjadi 35% dari modal bank turut menyokong upaya ini.

“Total insentif KLM yang sudah disalurkan mencapai Rp376 triliun hingga minggu pertama Juli,” ujar Perry.

PLM (Penyangga Likuiditas Makroprudensial) juga dipangkas: menjadi 4% untuk bank umum konvensional dan 2,5% untuk bank syariah.

Namun tetap saja, pertanyaannya menggantung: apakah dunia usaha akan responsif?

Pembayaran Digital dan UMKM: BI Tak Lupa Akar Rumput

Tak hanya bermain di langit makro, BI juga menyasar bumi. Sistem pembayaran didesain untuk menopang UMKM dan perdagangan ritel.

Melalui perluasan QRIS, penguatan infrastruktur, dan konsolidasi industri sistem pembayaran, BI ingin memastikan pelonggaran moneter tak berhenti di papan indikator Bloomberg.

Uang harus mengalir. BIsnis kecil harus bergerak. Dan rakyat kecil harus bisa bernapas.

Membaca Arah Angin: BI Bukan Satu-satunya Nahkoda

Pemangkasan BI-Rate bisa jadi obat sementara, tapi bukan satu-satunya.

Efektivitas pelonggaran moneter sangat tergantung pada sinergi fiskal dan respons sektor riil.

Jika bank tetap enggan menyalurkan kredit, atau jika konsumsi rumah tangga belum pulih, maka pelonggaran bisa jadi sekadar euforia pasar.

BI Buka Peluang, Tapi Siapa yang Menyambut?

BI telah membuka pintu. Suku bunga bisa turun lagi, mungkin tahun ini, mungkin awal 2026.

Namun, pelonggaran tak akan berarti tanpa partisipasi sektor perbankan, dunia usaha, dan pemerintah.

Seperti konser yang tak lengkap jika hanya diramaikan oleh konduktor. Sskarang, bola ada di kaki pasar dan para pengambil kebijakan lainnya.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Arahnews.com dan Haloagro.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Sentranews.com dan Indonesiaraya.co.id.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hellojateng.com dan Hariankarawang.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Hallo Oto Diluncurkan, HMN Media Perluas Jaringan Digital untuk Menangkap Peluang Industri Otomotif
New Media Network Buka Peluang Bisnis bagi Pemilik Followers Media Sosial melalui Kolaborasi Pemasaran Digital
New Media Network Buka Peluang Bisnis bagi Pemilik Followers Media Sosial melalui Kolaborasi Pemasaran Digital
SapuLangit Media Center Perluas Distribusi Siaran Pers ke Lebih dari 200 Media Online untuk Manajemen Reputasi,ć
PROPAMI: Pasar Modal Harus Jadi Jalur Pembiayaan Produktif
Kecepatan Tayang Jadi Solusi Distribusi Press Release di Platform Media Sosial, Siarannews.com Gandeng NMN
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca
Demi Jurnalisme yang Berkualitas, Hallo.id Menghadirkan Platform ‘Traktir Kopi’ untuk Apresiasi dari Pembaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:43 WIB

New Media Network Buka Peluang Bisnis bagi Pemilik Followers Media Sosial melalui Kolaborasi Pemasaran Digital

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:15 WIB

New Media Network Buka Peluang Bisnis bagi Pemilik Followers Media Sosial melalui Kolaborasi Pemasaran Digital

Minggu, 27 September 2026 - 17:02 WIB

SapuLangit Media Center Perluas Distribusi Siaran Pers ke Lebih dari 200 Media Online untuk Manajemen Reputasi,ć

Sabtu, 26 September 2026 - 21:33 WIB

PROPAMI: Pasar Modal Harus Jadi Jalur Pembiayaan Produktif

Senin, 14 September 2026 - 09:59 WIB

Kecepatan Tayang Jadi Solusi Distribusi Press Release di Platform Media Sosial, Siarannews.com Gandeng NMN

Berita Terbaru

Pers Rilis

Pentingnya Belajar Bahasa Inggris di Era Digital

Selasa, 7 Jul 2026 - 18:16 WIB

Pers Rilis

Sunlife perkenalkan merek global baru

Sabtu, 17 Okt 2026 - 02:18 WIB